
Teknologi PaMER hasilkan minyak pangan bernutrisi tinggi, rendah karbon

Sebuah truk pengangkut panen buah kelapa sawit menurunkan muatannya di area perkebunan PT Agrinas Palma Nusantara, di Distrik V Regional I, Pekanbaru, Riau, pada Rabu (29/10/2025). (Indonesia Window)
Teknologi PaMER (Pabrik Minyak Sawit Emisi Rendah) menghasilkan minyak pangan bernutrisi tinggi dan produk lain yang ramah lingkungan, serta berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 79,19 persen dibandingkan dengan teknologi konvensional.
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia dan China terus memperkuat kerja sama di bidang pembangunan berkelanjutan, salah satunya melalui kerja sama antara Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Republik Indonesia dan Chinese Society of Environmental Sciences (CSES) dalam pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi. Kemitraan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mentransformasi industri kelapa sawit nasional agar sejalan dengan agenda pembangunan hijau dan target penurunan emisi.
"Salah satu aspek utama dari kemitraan ini adalah pengembangan dan penerapan teknologi inovatif rendah emisi, atau yang kami sebut sebagai PaMER (Pabrik Minyak Sawit Emisi Rendah)," kata Sekretaris Kementerian PPN Teni Widuriyanti dalam seremoni penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama secara daring pada Selasa (27/1).
Teknologi ini tidak hanya menghasilkan minyak pangan bernutrisi tinggi dan produk lain yang ramah lingkungan, tetapi juga berpotensi menurunkan emisi karbon sebesar 79,19 persen dibandingkan dengan teknologi konvensional. Dengan demikian, penerapan teknologi PaMER diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri sawit nasional sekaligus membuka peluang pembiayaan pembangunan inovatif melalui mekanisme perdagangan karbon.
Selain pengembangan teknologi, kemitraan ini juga mencakup kajian bersama penyusunan kerangka perdagangan karbon yang komprehensif dan aplikatif bagi sektor kelapa sawit. Kedua institusi akan bekerja sama dalam penyusunan metodologi perhitungan emisi karbon.
Kolaborasi ini juga akan mendorong penguatan kapasitas dan kesejahteraan petani sawit melalui pembentukan koperasi petani serta pelatihan dan pertukaran pengetahuan. Dengan demikian, petani dapat terlibat langsung dalam mekanisme perdagangan karbon dan memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Wakil Presiden dan Sekretaris Jenderal CSES Xia Zuyi menyebut kerja sama ini memiliki nilai inovasi dan percontohan yang penting dalam konteks transisi hijau global.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature - Indonesia raih penghargaan The New Destination Champion Award 2026 by LA LISTE
Indonesia
•
29 Nov 2025

Pakar: Kenaikan suku bunga bank sentral AS picu kerentanan negara berkembang
Indonesia
•
14 Oct 2022

12 negara dalam bahaya karena gagal bayar utang
Indonesia
•
16 Jul 2022

Sejumlah pejabat serukan penguatan kerja sama China-Afrika di bawah platform FOCAC
Indonesia
•
24 May 2024


Berita Terbaru

FreeNow hadir di Morowali, investasi China diharapkan gerakkan ekonomi lokal
Indonesia
•
28 Oct 2026

Impor BBM Indonesia dari China bisa melonjak 8 kali lipat, dari 6,6 triliun rupiah jadi 54,45 triliun rupiah
Indonesia
•
28 Oct 2026

Arab Saudi simpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns Singapura
Indonesia
•
26 Oct 2026

Danantara buka penjajakan dengan 11 perusahaan China, investasi PLTS dan hilirasasi mineral jadi sorotan
Indonesia
•
27 Oct 2026
